DNAPRO

Indikator Teknikal yang Populer Di Kalangan Trader

Indikator Teknikal yang Populer Di Kalangan Trader

Indikator Teknikal yang Populer Di Kalangan Trader - Beragamnya indikator teknikal yang digunakan dalam trading forex dan komoditi tentu saja dapat membuat para trader pemula kebingungan. Padahal indicator ini sendiri mampu membantu kalian dalam melakukan analisa teknikal lebih mudah. Apa saja fungsinya, bagaimana cara membacanya, akan kita kupas lengkap dalam panduan dibawah ini. Dengan harapan, panduan ini bisa membantu kalian dalam memilih peluang trading dengan lebih mudah.

Fungsi Umum Indikator Teknikal

Pada dasarnya, kegunaan utama indikator teknikal adalah untuk membantu kalian memonitor kondisi pasar. Tanpa adanya indikator, bisa saja kalian kesulitan menentukan apakah pasar sedang bearish atau bullish, posisi apa yang harus kalian buka dan kapan harus membuka posisi.

Jika memanfaatkan indikator, Kalian akan mampu memantau tren apa yang sedang berjalan dengan lebih mudah, sehingga Kalian bisa menentukan harus buka posisi buy atau sell. Kalian juga dapat mendeteksi kekuatan tren tersebut, akankah masih berlanjut panjang atau akan segera jenuh. Tren yang kuat berarti harga akan bergerak ke satu arah untuk periode yang cukup panjang, jadi bisa Kalian gunakan untuk meraup potensi profit. Sebaliknya, hindari tren yang lemah dan kondisi pasar jenuh sebab gejolak harganya rawan berbalik arah sebelum dapat mencapai profit.

Indikator Teknikal Populer

Kali ini, ayo kita kenali beberapa indikator teknikal yang paling sering dipakai oleh para trader:

1. Moving Average (MA)

MA adalah indikator tren yang berwujud garis yang bergerak lagging, atau lebih pelan dari pergerakan harga. Garis MA yang bergerak naik menandakan uptrend atau bullish, sedangkan garis MA ke bawah berarti downtrend atau bearish. Selain itu juga, Kalian menentukan level support dan resistance dinamis dengan memonitor posisi garis MA pada grafik. Garis MA yang berada di bawah harga menjadi level support dinamis, sedangkan garis MA di atas harga menjadi level resistance dinamis.

Kalian juga bisa memanfaatkan dua garis MA dengan periode yang berbeda untuk memilih sinyal buka posisi. Misalnya MA 20 dan MA 50. MA 20 yang memotong MA 50 dari atas ke bawah menandakan sinyal bearish, sehingga Kalian bisa buka posisi sell. Sebaliknya, jika MA 20 memotong MA 50 dari bawah ke atas, ini menunjukkan sinyal bullish untuk membuka posisi buy.

2. Parabolic SAR

Parabolic SAR (stop and reverse) juga merupakan bagian dari indikator tren. Dilihat dari namanya, indikator ini dapat menunjukkan momen-momen di mana pergerakan harga akan berhenti dan berbalik arah, atau yang biasa kita dengar dengan istilah reversal.

Bila titik-titik SAR muncul di bawah candlestick, kaliannya pasar sedang uptrend. Jika di atas candlestick, berarti pasar sedang downtrend. Reversal akan terlihat apabila ada titik SAR yang berlawanan dengan tren, lalu terdapat candlestick yang melewati titik SAR tersebut.

3. Bollinger Bands

Bollinger bands terdiri dari garis lower, middle, dan upper band. Kalian dapat memanfaatkan indikator ini untuk memantau kejenuhan pasar. Bila pergerakan harga mencapai upper band, artinya harga sudah menyentuh kondisi overbought atau jenuh beli. Sebaliknya, harga yang bergerak hingga mencapai garis bawah menandakan kondisi oversold atau jenuh jual. Kondisi pasar jenuh umumnya mengindikasikan bahwa harga akan segera berbalik arah.

Kalian bisa melakukan buy ketika harga mencapai garis lower band, tapi dengan catatan bahwa tren harga keseluruhan sedang naik. Sebaliknya, Kalian bisa melakukan sell ketika harga mencapai garis upper band, tapi tren harga keseluruhan sedang turun. Untuk mengetahui tren keseluruhan, Kalian bisa mengkombinasikannya dengan garis MA 200.

4. Average Directional Movement Index

Indikator ADX adalah jenis indikator tren yang dapat Kalian manfaatkan untuk mengukur kekuatan tren. Garis ADX yang naik menandakan tren yang menguat dan garis yang turun menandakan tren yang melemah. Diluar itu, tren juga dianggap kuat saat garis ADX bergerak menembus level 25.

5. Fibonacci Retracement

Manfaatkanlah indikator fibonacci retracement dalam memilih level support dan resistance, serta menentukan area untuk membuka posisi. Fibonacci terdiri dari level-level tertentu antara 0%-100%, tapi level-level yang penting adalah level 38.2%, 50%, 61.8%, dan 78.6%.

Level 38.2%-61.8% adalah level support dan resistance yang dapat menjadi referensi buka posisi buy atau sell. Level 0% dapat menjadi referensi Take Profit Kalian, sedangkan referensi Stop Loss berada di level 78.6%. Namun, bila Kalian siap mengambil risiko lebih tinggi untuk meraih potensi profit yang lebih tinggi juga, tempatkan Stop Loss di level 100%.

Nah untuk kalian para trader pemula, kelima indikator yang kita bahas diatas bisa kalian coba dalam pengaplikasian strategi trading kalian. Jangan lupa untuk lakukan uji coba terlebih dahulu penggunaannya melalui akun demo agar dapat melakukan latihan atau simulasi secara gratis dan tanpa risiko.

Leave A Comment

  • Your fullname is required
    • Valid email is required.
    • Please,leave us a message.